Kapolres Trenggalek: Ruang Digital Harus Bebas dari Polarisasi dan Ujaran Kebencian

oleh -1265 Dilihat

Polres Trenggalek – Forum Diskusi kebangsaan yang diselenggarakan oleh Polres Trenggalek berlangsung hangat dan disambut penuh antusias oleh para peserta. Masing-masing saling memberikan pendapat dan argumen positif yang relevan dengan kondisi hari ini. Kamis, (13/8).

Acara yang mengambil tempat di Aula Tatag Trawang Tungga Mapolres Trenggalek dengan tema “`Merawat Bhinneka Tunggal Ika Memperkuat Persatuan Bangsa di Tengah Polarisasi dan Ruang Digital” ini memang cukup menarik untuk dibahas dari berbagai sudut pandang.

Tak mau setengah-setengah, untuk memperkuat ruang diskusi, Polres Trenggalek menghadirkan nara sumber yang kompeten dan cukup berpengalaman Dr. Soeripto, S.Ag., M.Pd.I., seorang aktivis senior sekaligus dosen yang juga pernah menjabat sebagai Ketua KPU periode 2014-2019.

Dalam sambutannya saat membuka Focus Group Discussion (FGD) tersebut, Kapolres Trenggalek, AKBP Rizky Tri Putra Erryka Adi Wijaya, S.I.K., M.H. menuturkan bahwa founding father telah meletakkan dasar-dasar bernegara. Termasuk Bhineka Tunggal Ika yang secara nyata menjadi pemersatu dalam hidup bernegara.

“Polarisasi bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti isu kesukuan, keyakinan dan agama hingga tentang pilihan politik yang berbeda.” Ungkapnya.

Perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat dinilai turut membawa pengaruh terhadap meluasnya polarisasi melalui konten media sosial yang sering kali disalahgunakan sebagai alat menyebarkan hoaks maupun framing dengan tujuan menggiring opini publik.

Pihaknya juga menyoroti era post truth dimana pengguna media sosial cenderung menyukai konten yang sesuai dengan jalan pikirannya sendiri walaupun itu adalah informasi yang salah. Sebaliknya, langsung skip konten yang tidak sejalan dengan apa yang ada dibenaknya, meskipun itu valid.

Bhineka Tunggal Ika selayaknya bisa menjadi tali panjang yang bisa merangkul semuanya dan menekan potensi polarisasi. Ruang digital kita harus bisa menjadi rumah besar yang aman, nyaman dan ramah untuk semua kalangan. Terbebas dari unggahan negatif dan destruktif.

“Melalui FGD ini saya berharap, muncul ide, gagasan yang bisa kita gunakan sebagai referensi dan pijakan dalam merumuskan strategi untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika yang tidak hanya sebagai pemersatu tetapi juga landasan berfikir, berbuat dan bertindak, dimana ujungnya adalah Kamtibmas yang senantiasa aman dan kondusif.” Imbuhnya.

Sementara itu, Dr. Soeripto mengungkapkan, Indonesia diuji dengan cara berbeda. Dahuku ancaman berupa peperangan dan konflik fisik,. Sedangkan hari ini dengan jari dan layar. Kecepatan informasi tidak diimbangi literasi, pertengkaran di kolom komentar menjadi potensi konflik offline.

“Beda pendapat itu sehat. Polarisasi itu muncul ketika perbedaan sudah dibingkai menjadi ancaman. Kita mengharapkan kebebasan bernegara, tetapi dengan kebebasan yang bertanggungjawab.” Jelasnya.

Pihaknya menekankan bahwa UUD 1945, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, pada dasarnya adalah satu kesepakatan bersama bahwa Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia lengkap dengan keragaman adat, budaya, suku dan agama.

“Kita tidak harus menyamakan perbedaan itu, tetapi kita harus bisa saling menghormati dan bertoleransi.” Pungkasnya.

Acara yang diikuti oleh jajaran Forkopimda, kepala desa, civitas akademika, aktivis mahasiswa, organisasi agama dan kepemudaan hingga perguruan pencak silat dan komunitas masyarakat lainnya ini ditutup dengan deklarasi bersama menolak polarisasi, menolak hoaks dan ujaran kebencian, demi Harkamtibmas yang aman dan kondusif di Kabupaten Trenggalek.

No More Posts Available.

No more pages to load.