Kolom Opini: Dr. Wahyu Abdul Jafar, M.HI (Dosen Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Lampung)

oleh -19 Dilihat

Ketika Sekolah Kehilangan Arah: Degradasi Moral Pelajar dan Kegagalan Sistem Pendidikan

Ada sesuatu yang patut kita khawatirkan dari wajah pendidikan kita hari ini. Bukan hanya soal nilai ujian, peringkat sekolah, atau kemampuan siswa menguasai teknologi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika anak-anak kita semakin pintar menjawab soal, tetapi semakin sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Berbagai persoalan yang melibatkan pelajar terus muncul di ruang publik. Perundungan, kekerasan antarsiswa, tawuran, pelecehan, intoleransi, kecanduan gawai, hingga perilaku tidak jujur seolah menjadi bagian dari problem pendidikan yang tak kunjung selesai. Kita sering terburu-buru menunjuk pelajar sebagai sumber masalah. Anak dianggap kurang disiplin, kurang sopan, terlalu bebas, atau terlalu banyak bermain media sosial. Namun, benarkah persoalannya sesederhana itu? Jangan-jangan ada persoalan yang lebih besar: kita sedang berhadapan dengan sistem pendidikan yang terlalu lama mengukur keberhasilan anak dari apa yang mereka ketahui, tetapi kurang serius memperhatikan bagaimana mereka bersikap.

Sekolah Jangan Hanya Menghasilkan Anak Pintar

Pendidikan pada dasarnya bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan seharusnya membentuk manusia. Artinya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan seorang anak menghitung, menghafal, menulis, atau mendapatkan nilai tinggi. Pendidikan juga harus mampu membentuk kejujuran, tanggung jawab, empati, kedisiplinan, penghormatan kepada orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Masalahnya, orientasi pendidikan kita sering kali masih terjebak pada capaian yang mudah diukur. Nilai rapor dapat dihitung. Nilai ujian dapat dibandingkan. Prestasi akademik dapat dipamerkan. Tetapi bagaimana mengukur kejujuran seorang anak? Bagaimana menghitung kepeduliannya kepada teman? Bagaimana menilai kemampuannya menghargai orang lain? Karena sulit diukur, aspek moral sering berada di urutan belakang. Kita kemudian terkejut ketika menemukan anak berprestasi secara akademik tetapi melakukan perundungan. Kita heran ketika siswa yang mendapatkan nilai tinggi ternyata terbiasa menyontek. Kita kecewa ketika seorang pelajar mampu menggunakan teknologi dengan sangat baik, tetapi menggunakannya untuk menghina, mempermalukan, atau menyebarkan kebencian kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan tanpa karakter dapat menjadi persoalan baru.

Jangan Menyalahkan Anak Sendirian

Ketika terjadi tawuran, kita menyalahkan siswa. Ketika terjadi perundungan, kita menyalahkan siswa. Ketika anak kecanduan media sosial, kita kembali menyalahkan anak. Padahal, seorang anak tidak tumbuh di ruang kosong. Mereka dibentuk oleh keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, media, budaya digital, dan berbagai nilai yang mereka temukan setiap hari. Karena itu, ketika terjadi degradasi moral di kalangan pelajar, pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya “mengapa anak-anak semakin nakal?”, tetapi juga “lingkungan seperti apa yang selama ini kita bangun untuk mereka?” Anak belajar kejujuran bukan hanya dari buku pelajaran tentang kejujuran. Mereka belajar dari perilaku orang dewasa di sekitarnya. Anak belajar menghargai orang lain bukan hanya dari ceramah guru, tetapi dari cara orang dewasa memperlakukan sesamanya. Di sinilah pendidikan kita menghadapi persoalan yang serius. Kita sering meminta anak menjadi baik, sementara lingkungan sosial yang mereka lihat setiap hari justru mempertontonkan sebaliknya.

Guru Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Kita juga perlu berhenti menempatkan guru sebagai pihak yang harus menyelesaikan seluruh persoalan moral siswa. Guru memang memiliki peran penting. Tetapi guru tidak mungkin menggantikan seluruh fungsi keluarga. Guru juga tidak mungkin mengawasi siswa selama dua puluh empat jam. Apalagi di tengah perubahan teknologi yang membuat ruang pendidikan tidak lagi berhenti di gerbang sekolah. Seorang guru mungkin telah mengajarkan sopan santun selama beberapa jam di kelas. Tetapi setelah pulang, anak menghabiskan berjam-jam di media sosial, menonton berbagai konten, berinteraksi dengan teman, dan menerima berbagai nilai yang belum tentu sejalan dengan pendidikan sekolah. Karena itu, pendidikan karakter tidak mungkin hanya menjadi tugas sekolah. Ia harus menjadi proyek bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan ekosistem digital. Jika tidak, sekolah akan terus bekerja keras menanamkan nilai, sementara lingkungan di luar sekolah mencabutnya kembali.

Pendidikan Karakter Jangan Berhenti sebagai Slogan

Kita sebenarnya tidak kekurangan jargon tentang pendidikan karakter. Istilah karakter, profil pelajar, pendidikan moral, dan berbagai konsep sejenis telah lama menjadi bagian dari wacana pendidikan nasional. Persoalannya bukan pada kurangnya istilah, melainkan pada implementasinya. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada upacara, poster di dinding sekolah, slogan tentang kedisiplinan, atau tugas menulis tentang kejujuran. Karakter harus menjadi budaya yang hidup dalam keseharian sekolah. Sekolah yang mengajarkan kejujuran, misalnya, harus menciptakan lingkungan yang tidak mentoleransi kecurangan. Sekolah yang mengajarkan penghormatan harus memiliki mekanisme yang tegas terhadap perundungan. Sekolah yang mengajarkan tanggung jawab harus memberikan ruang kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab atas keputusan dan kesalahannya. Dengan kata lain, anak tidak cukup diberi tahu apa yang baik. Mereka harus hidup dalam lingkungan yang membuat kebaikan itu menjadi kebiasaan.

Teknologi Bukan Musuh, Tetapi Tidak Boleh Menjadi Guru Utama

Era digital membawa tantangan baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Anak-anak sekarang dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Mereka dapat berkomunikasi dengan siapa saja dan melihat berbagai macam konten tanpa batas geografis. Teknologi tentu bukan musuh pendidikan. Justru teknologi dapat menjadi instrumen yang luar biasa untuk memperluas akses pengetahuan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kemampuan menggunakan teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kematangan moral penggunanya. Anak dapat menguasai cara membuat konten, tetapi belum tentu memahami konsekuensi menyebarkan konten tersebut. Mereka dapat mengetahui cara menggunakan media sosial, tetapi belum tentu memahami etika berkomunikasi di dalamnya. Mereka dapat mengakses informasi dengan mudah, tetapi belum tentu memiliki kemampuan menyaring mana informasi yang benar dan mana yang menyesatkan. Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan menggunakan teknologi. Anak juga harus dibekali etika digital, tanggung jawab, empati, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran bahwa jejak digital dapat memiliki konsekuensi nyata.

Saatnya Mengoreksi Cara Kita Memahami Pendidikan

Degradasi moral pelajar seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi yang lebih mendasar terhadap sistem pendidikan nasional. Kita tidak bisa terus-menerus menganggap pendidikan berhasil hanya karena angka partisipasi sekolah meningkat atau capaian akademik tertentu membaik. Pendidikan harus dilihat dari manusia seperti apa yang lahir dari proses tersebut. Apakah mereka menjadi manusia yang jujur? Apakah mereka mampu menghormati perbedaan? Apakah mereka mampu mengendalikan emosi? Apakah mereka memiliki kepedulian terhadap sesama? Apakah mereka berani mengatakan tidak terhadap kecurangan meskipun tidak ada yang mengawasi? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang semestinya kembali menjadi pusat pembicaraan tentang pendidikan. Sebab pada akhirnya, sekolah bukan pabrik yang memproduksi nilai rapor. Sekolah adalah ruang untuk membentuk manusia. Jika pendidikan hanya berhasil membuat anak pintar tetapi gagal membuat mereka memiliki moral, maka kita sebenarnya sedang menghasilkan generasi yang memiliki pengetahuan, tetapi kehilangan arah. Dan jika persoalan itu terus dibiarkan, yang mengalami degradasi bukan hanya moral pelajar. Yang sedang kita pertaruhkan adalah masa depan masyarakat itu sendiri. Pendidikan nasional karena itu tidak cukup hanya melakukan pergantian kurikulum, perubahan sistem evaluasi, atau digitalisasi pembelajaran. Yang jauh lebih penting adalah mengembalikan pendidikan kepada tujuan dasarnya: memanusiakan manusia. Sebab bangsa yang besar bukan hanya membutuhkan generasi yang cerdas. Bangsa ini membutuhkan generasi yang tahu bagaimana menggunakan kecerdasannya untuk melakukan kebaikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.