Legitimasi Kebohongan

oleh -216 Dilihat
Abu Nawas.

Surabaya, beritabaikjatim.com-

Ketika Abu Nawas berjalan di tengah pasar. Dia melihat ke dlm topinya dan tersenyum penuh bahagia.

Orang-orang/ masyarakat sekitarnya termasuk Badu yang mengklaim dirinya sebagai Tokoh masyarakat melihatnya pun heran, lalu bertanya ;

 

Badu :……“hai Abu Nawas apa yg kamu lihat ke dlm topimu itu yg membuatmu tersenyum bahagia.??”

Abunawas:…..“Aku sedang melihat Surga yg dihiasi para bidadari2.” (dgn ekspresi meyakinkan).

 

Badu :…..”Coba aku lihat ?”

Abunawas:…..Tapi saya tdk yakin kamu bs melihat seperti apa yg saya lihat.”

 

Badu:…..“Mengapa.?”..(serempak, krn sama2 semakin penasaran)

Abunawas:…..“Krn hanya orang beriman dan sholeh saja yg bs melihat Surga dan Bidadarinya di topi ini”

 

Badu:…..”Coba aku lihat.!!”

Abunawas;…..“Silahkan”

Badu pun melihat ke dlm topi, lalu sejenak menatap ke arah Abu Nawas, kemudian menengok ke orang di sekelilingnya dan berkata:….. *”benar aku melihat surga dan bidadari…luarbiasa” (penuh kagum)

 

~Orang-orang pun heboh ingin menyaksikan Surga dan bidadari di dlm topi Abu Nawas, tetapi Abu Nawas mewanti-wanti, bahwa hanya orang ber-Iman dan Sholeh yg bisa melihatnya.

 

~Dari sekian bnyk yg melihat ke dlm topi itu bnyk yg mengaku melihat Surga dan bidadari tetapi bnyk jg yg tidak bs melihat sama sekali. Mrk yg td bs melihat berkesimpulan “Abu Nawas telah berbohong”

Mereka pun melaporkan Abu Nawas ke Raja, dgn tuduhan telah menebarkan kebohongan di tengah masyarakat.

 

~Akhirnya, Abu Nawas dipanggil menghadap Raja untuk diadili.

……………………

Dlm Sidang Pengadilan Raja

RAJA:……”Benarkah di dlm topimu bs terlihat surga dgn bidadarinya.?”

Abunawas:…..”Benar paduka Raja, tetapi hanya orang beriman dan sholeh sj yg bisa melihatnya. Sementara yg tidak bisa melihatnya, berarti dia blm beriman dan tdk Sholeh.

Kalau paduka Raja mau menyaksikannya sendiri, silahkan..”

 

RAJA:…..”Baiklah, kalau begitu sy mau menyaksikannya sendiri.”…..

 

~Sdh pasti Raja tdk melihat surga apalagi bidadari di dlm Topi Abu Nawas.

~Raja berpikir, kalau ia mengatakan tidak melihat surga dan bidadari, berarti ia termasuk tidak beriman, maka akan berdampak dan berakibat bisa merusak reputasinya sbg Raja….

 

RAJA:……(setengah berteriak dan pura2 kagum)….“Engkau benar Abu Nawas, aku menyaksikan Surga dan Bidadari di dlm topimu..!!!”

 

~ Maka Rakyat yg menyaksikan reaksi Rajanya itu, lalu diam seribu bahasa dan tak ada lagi yg berani membantah Abu Nawas.

Mereka takut berbeda dgn Raja dan khawatir di cap belum beriman dan tdk Sholeh………..

 

~Konspirasi kebohongan yg ditebar oleh Abu Nawas, mendapat legitimasi dari Raja.

 

Abunawas:…..(dlm hati tertawa sinis sambil bergumam)…..”

beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan pun akan merajalela.

 

Ketika keberanian lenyap dan ketakutan telah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan akan melenggang kangkung sbg sesuatu yg  “benar.”

 

Ketakutan untuk berbicara jujur, juga karena faktor gengsi.

Gengsi dianggap belum beriman atau dgn alibi/alasan lainnya.

Padahal, label gengsi itu hanyalah rekayasa opini publik yang dipenuhi dg kebohongan.

 

Kepercayaan diri sebagai pribadi yang mandiri utk berkomitmen pd kebenaran berdasarkan prinsip kejujuran tlh dirontokkan oleh kekhawatiran label status yg sesungguhnya sangat subyektif dan semu.

 

Kecerdikan konspirasi (kebohongan) opini publik Abu Nawas, telah menumbangkan kebenaran dan kejujuran.

 

Akhirnya, kecerdasan tanpa kejujuran dan keberanian, takluk di bawah kecerdikan yang dilakonkan dengan penuh keberanian dan kepercayaan diri meski pun itu adalah kebohongan yang nyata.

 

Kasus legitimasi kebohongan versi Abu Nawas, bisa saja terjadi di sekitar kita. Tentu dengan aneka versinya yang berbeda.(*)

No More Posts Available.

No more pages to load.